Kegiatan


BNPT: 3 Pilar Kamtibmas Kunci Deteksi Dini Terorisme

Manado, FKPT Center - Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Letnan Kolonel (laut) Setyo Pranowo, menyebut Lurah, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa, sebagai 3 pilar penjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Peran vital menyertai keberadaannya, yaitu melakukan deteksi dini terhadap setiap potensi radikalisme dan terorisme.

Hal ini disampaikan oleh Setyo saat mewakili Direktur Pencegahan BNPT menyampaikan sambutan pembukaan kegiatan 'Ngopi Coi: Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia', yang diselenggarakan oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Utara di Manado, Rabu (29/7/2020).

"Kenapa saya katakan tiga pilar Kamtibmas ini memegang peran vital? Karena tiga pilar inilah yang selalu berinteraksi secara langsung dengan masyarakat," kata Setyo.

Setyo menambahkan, hal ini penting untuk disampaikan karena  jaringan pelaku terorisme ada dan membaur di tengah masyarakat. "Pendekatan yang intensif dan baik akan mampu mendeteksi setiap potensi radikalisme dan terorisme," tambahnya.

Pendekatan yang intensif dan baik, masih kata Setyo, juga diperlukan untuk mendukung agar deteksi dini bisa dilaksanakan dengan dukungan penuh dari masyarakat. Sinergi yang baik antara 3 pilar Kamtibmas dengan masyarakat yang dipimpinnya akan menghadirkan sebuah lingkungan yang aman dan nyaman.

Ketua FKPT Manado, Max Surya Togas, pada kesempatan yang sama mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk mengikat komitmen bersama bahwa tugas pencegahan terorisme bukan hanya di tangan aparatur keamanan dan pemerintah semata.

"Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk mendukung suksesnya pencegahan terorisme," kata Max.

Pada kegiatan ini, lanjut Max,  secara khusus peserta kegiatan yang terdiri dari 3 pilar Kamtibmas akan dikenalkan bagaimana mendeteksi penyebarluasan ideologi radikal terorisme yang menyebar menunggangi kebebasan informasi. Untuk mendukung suksesnya kegiatan, BNPT dan FKPT Manado telah memfasilitasi kehadiran mantan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, untuk menjadi pemateri.

"Ada dinamika pola rekrutmen dan penyebarluasan ideologi radikal terorisme dari sebelumnya tertutup ke arah penggunaan media sosial. Bagaimana mengenali dan mengatasinya, kita akan bersama-sama belajar kepada ahlinya," tutup Max